Nice

Memasuki musim dingin yang serba kelabu di daratan Eropa, Nice menawarkan pemandangan yang sungguh berbeda. Dari atas pesawat, kita bisa merasakan cerah dan hangatnya sinar matahari dipadu dengan debur ombak yang bergulung-gulung di bawahnya, seakan mengajak kaki untuk berendam di dalamnya.

Benar saja, begitu melangkahkan kaki keluar dari bandara, udara Nice yang hangat dengan suhu sekitar 14 derajat Celsius, bagaikan sapaan ramah yang menyambut kedatangan para pelancong yang terbiasa hidup di negeri tropik. Sepanjang jalan utama Promenade Des Anglais yang membelah jantung kota Nice, mata akan dimanja dengan pemandangan yang menakjubkan.

Di sebelah kanan, pantai berpasir putih dengan air yang biru jernih terbentang sepanjang mata memandang. Suasana santai dan liburan langsung terasa. Beberapa perempuan cantik bertubuh molek berselonjor mandi matahari. Sementara pasangan di sebelahnya, asyik berciuman, seakan dunia hanya milik berdua. Sungguh romantis!

Sementara di sebelah kiri jalan, pemandangannya juga tak kalah mengasyikkan. Sepanjang jalan juga dipenuhi berbagai bagunan apartemen bernuansa art deco, yang di lantai bawahnya dipenuhi café, restoran, toko, butik dan juga casino. Mata kita akan dibuai dengan warna-warni cerah dari tenda yang dipasang di depan bangunan atau teras seperti merah, hijau, kuning, biru yang menyatu dengan hangatnya matahari.

Yang membuat Nice istimewa selain dari temperaturnya yang hangat sepanjang tahun adalah dua kekayaan alam sekaligus yang dimilikinya. Di sebelah selatan kita bisa menikmati hangatnya udara laut. Di sebelah utara kita juga bisa melihat puncak gunung Alpes d’Azur yang ditutupi gundukan es. Pada puncak musim dingin di bulan Februari, penduduk setempat ataupun turis bisa bermain ski di puncak gunung. Jika bosan dan merindukan hangatnya matahari, kita bisa langsung turun ke pantai, cukup dengan kaos atau bikini. Unik, tapi nyata.

Selain keindahan alamnya, Nice juga terkenal dengan keindahan arsitekturnya dan bangunan bersejarah. Sebagai ibu kota Cote d’Azur alias French Riviera, Nice menawarkan beragam seni arsitektur peninggalan masa pendudukan Yunani dan Romawi, mulai dari Baroque, Klasik, Belle Epoque, Art Deco hingga kontemporer.

Yang tak bisa dilewatkan adalah Kota Lama Nice yang masih mempertahankan kecantikan arsitektur baroque dari abad ke-17-18, seperti Palais Lascaris, yang sekarang menjadi museum seni rakyat dan tradisi, Gedung Pengadilan (Palais de Justice) yang dibangun tahun 1892 yang selesai dimodifikasi tahun 2000 serta Gedung Prefecture lama, bekas istana Raja-raja Sardinian.

Tak ketinggalan bangunan-bangunan gereja, seperti The Cathedral (Sainte-Reparate), Gereja Saint Rita, terutama Chapelle de la Misericorde yang sungguh cantik. Sebagai kota yang dikenal artistik, Kota Lama Nice ini juga banyak ditemukan berbagai galeri seni dan toko-toko kerajinan tangan.

Kota kecil peninggalan Yunani yang letaknya diapit Nice dan Cannes ini, dikenal sebagai kota yang pertama kali menggelar Festival Jazz di Eropa sejak tahun 1960 yang masih terus berlangsung hingga kini. Kalau jazz begitu populer di Antibes, ini berkat dua masterpiece jazz pertama di dunia, Louis Armstrong dan King Oliver yang tahun 1923 tinggal di Cap d ‘Antibes dan memperkenalkan musik Afro-Amerika pada masyarakat setempat, hingga akhirnya lahir festival yang diberi nama Jazz in Juan. Festival yang digelar setiap bulan Juli ini, telah menghadirkan artis-artis jazz kenamaan dunia, macam Marcus Miller, Wynton Marsalis, Salif Keita, Diana Krall, James Carter hingga Joshua Redman.

Sumber dari http://www.resep.web.id/traveling/nice-perancis-tawarkan-beragam-seni-arsitektur.htm

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *