#TrenSosial: Ketika mahasiswa Indonesia ikut aksi solidaritas di Paris

paris1

 

Ratusan ribu orang turun memenuhi jalan-jalan mengikuti aksi solidaritas menentang tindak kekerasan atas nama agama tanggal 11 Januari lalu di Paris.

Aksi ini dipicu oleh insiden empat hari sebelumnya, manakala kantor majalah satireCharlie Hebdo diserang dua orang bersenjata, menewaskan 14 orang.

Laras Pitayu, 28, adalah salah satu yang hadir di antara lautan manusia di Kota Paris hari itu. Dia mengaku terdorong untuk berpartisipasi karena “marah” dengan aksi terorisme.

“Karena saya muslim, dan saya mengecam aksi terorisme yang menggunakan topeng agama Islam,” katanya kepada BBC Indonesia.

“Saya juga turun ke jalan sebagai aksi melawan Islamofobia, supaya kejadian ini tidak digunakan oleh kalangan yang pada dasarnya sudah rasis untuk semakin menunjukkan kebenciannya pada komunitas muslim.”

Indah Tridiyanti, 22, ketua perkumpulan mahasiswa di Prancis mengatakan banyak mahasiswa Indonesia yang ikut dalam aksi tersebut.

“Banyak yang sudah berkumpul dari siang walau acara mulai jam tiga sore, dan itu ramai sekali. Menurut teman-teman mereka bisa lihat semua kalangan berkumpul, dan tidak menyudutkan Islam.”

Laras mengatakan aksi solidaritas diikuti oleh semua perwakilan komunitas di sana termasuk kelompok kanan, kelompok kiri, dan semua perwakilan agama.

“Banyak pesan kedamaian dan solidaritas, itu yang membuat saya terharu, banyak orang yang menghimbau agar tidak menempelkan stigma negatif kepada komunitas muslim. Rata-rata orang yang berpendidikan paham bahwa yang namanya terorisme itu murni berisi kebencian dan tidak patut diasosiasikan dengan agama apapun.”

Kartun nabi

Ketika kartun Nabi Muhammad diterbitkan dalam sampul Charlie Hebdo pada Rabu (14/01), mayoritas mahasiswa Indonesia di Paris tidak terlalu mempermasalahkan, kata Indah.

“Itu adalah sebuah ekspresi kebebasan berpendapat, seharusnya kita tidak emosi, dan sejauh ini 80% dari yang saya lihat mereka setuju dengan kebebasan berpendapat. Hanya sebagain kecil yang mengaku menentangnya,” jelasnya.

Laras yang kini menempuh pendidikan doktor di bidang biologi kesehatan mengatakan paham dengan kemarahan umat muslim di Indonesia atas kartun Nabi Muhammad.

Namun kemarahan itu seharusnya tidak perlu berlarut-larut dan disampaikan dengan tegas dan tertulis.

“Kemudian balaslah ‘ejekan’ ini dengan prestasi, pembangunan negara, penerapan keadilan sosial bagi seluruh kalangan dan partisipasi positif di komunitas internasional, supaya dunia tahu bahwa Indonesia adalah negara yang jauh dari titik panas Timur Tengah, yang didominasi muslim dan menawarkan kesejukan bagi semua umat.”

“Bagi saya, kejadian ini menjadi masukan penting bagi kaum muslim untuk segera merombak Intelektualitas Muslim, khususnya para pemuda yang sedang semangat menjadi ‘aktivis media sosial’,” tambah Laras.

 

http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2015/01/150121_trensosial_mahasiswa_prancis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *