Category: Actualite | Aktual

Camille – Suis-moi (Le Petit Prince)

 

Suis-moi

Suis moi, là où je sais sourd
Suis moi, et si j’y suis pas
Suis moi, là où niche le hibou
Suis moi, on y est ou presque
Suis moi, là où rien ne presse
Suis moi, et v’la qu’nous y voilà
S’pose (s’pose)
C’est si bon quand on s’pose (s’pose)
Plus d’question et qu’on ose
Ouvrir enfin les bras
S’perd, (s’perd)
C’est si bon quand on s’perd (s’perd)
Sans un espèce de per(vers)
Qui nous repère même pas
S’pâme
C’est si bon quand on s’pâme
D’être si beau ici bas
Suis moi, qui suis-je le sais tu ?
Suis moi, ton sosie salut
Suis moi, et si moi c’était toi ?
Suis moi, et si on s’salit
Suis moi, en sueur ou en suie
Suis moi, de si tôt s’assis là
S’peut (s’peut)
C’est si bon quand ça s’peut
Que qui peut l’plus peut l’mieux (mieux)
Mieux que qui mieux que quoi
S’plie (s’plie)
C’est si bon quand on s’plie (s’plie)
De rire et que la pluie
Pleure elle aussi de joie
S’parle
C’est si bon quand on s’parle
Si haut ici bas
S’passe
C’est si bon quand ça s’passe
et si beau ici bas

KOMPETISI AIRBUS FLY YOUR IDEAS : PRANCIS MAJU KE FINAL BERKAT TIGA MAHASISWA ASAL INDONESIA DI TOULOUSE

  Lebih dari 350 karya telah bersaing dalam kompetisi mahasiswa internasional Fly Your Ideas 2017, yang diselenggarakan sejak 2008 oleh Airbus, bekerja sama dengan UNESCO. Tujuan dari kompetisi ini adalah memanggil mahasiswa dari seluruh dunia terkait solusi inovatif yang berkelanjutan untuk penerbangan masa depan. Lima tim finalis, yang salah satunya dari Prancis dan terdiri atas tiga mahasiswa Indonesia, akan berkompetisi… Read more →

French and Indonesian Scholars Meet in Yogyakarta, Seek to Strengthen Education Partnerships

Jakarta. French and Indonesian scholars met in Yogyakarta on Wednesday (03/05) to discuss enhancing partnerships between institutes of higher education in both countries.   The French Embassy in Indonesia, Institut Français d’Indonésie (IFI) and the Education Ministry have teamed up to host the Indonesia-France Joint Working Group Congress at Gadjah Mada University (UGM), which will conclude on Thursday. 300 representatives from French and Indonesian… Read more →

Europe on Screen 2017 di 6 Kota Indonesia Putar 74 Film Terbaik  

Poster Europ On Screen 2017. europeonscreen.org TEMPO.CO,Jakarta – Festival Film Uni Eropa ke-17 atau Europe on Screen (EOS) kembali digelar di enam kota di Indonesia pada 5-14 Mei 2017. Tak kurang dari 74 film terbaik dari 21 negara Eropa akan diputar di enam kota tersebut, yakni Bandung, Jakarta, Denpasar, Medan, Surabaya, dan Yogyakarta. Festival Film Uni Eropa merupakan rangkaian dari… Read more →

Je ne sais pas – Joyce Jonathan

 

Il y a des mots qui me gène des centaines de mots des milliers de rengaines qui ne sont jamais les mêmes

Comment te dire je veux pas te mentir tu m’attires et c’est la que ce trouve le vrai fond du problème

Ton orgueil tes caprices tes baisers des délices tes désirs des supplices je vois vraiment pas où ça nous mènes

Alors, on se raisonne c’est pas la fin de notre monde
Et à tord on se questionne encore une dernière fois

Je ne sais pas comment te dire j’aurais peur de tout foutre en l’air de tout détruire
Un tas d’idées à mettre au clair depuis longtemps
Mais j’ai toujours laissé derrière mes sentiments

Parfois je me dis que j’ai tors de rester si passive mais toi tu me regarde moi je te dévore
Et c’est parfois trop dur de discerner l’amour
Mon ami mon amant mon amour et bien plus encore

Alors, on se raisonne c’est pas la fin de notre monde
Et à tord on se questionne encore une dernière fois

Je ne sais pas comment te dire j’aurais peur de tout foutre en l’air de tout détruire
Un tas d’idées à mettre au clair depuis longtemps
Mais j’ai toujours laissé derrière mes sentiments
(x 2)

je te veux toi avec défaut et tes problèmes de fabrications
je te veux toi j’veux pas un faux pas de contrefaçons
j’veux pas te rendre pour prendre un autre
j’ veux pas te vendre pour une ou deux fautes
je veux tes mots je veux ta peau c’est jamais trop
je te veux plus changer ta vie qui veut un autre un peu plus joli
je ne veux pas je ne veux plus jamais voulu
et puis t’es qui j’te connais pas t’as du rêver ce n’était pas moi
mes confusions tu les connais laissons tomber

comment te dire j’aurais peur de tout foutre en l’air de tout détruire
Un tas d’idées à mettre au clair depuis longtemps
Mais j’ai toujours laissé derrière mes sentiments

Je ne sais pas comment te dire j’aurais peur de tout foutre en l’air de tout détruire
Un tas d’idées à mettre au clair depuis longtemps
Mais j’ai toujours laissé derrière mes sentiments
(x 2)

Presiden Prancis: Kebinekaan Indonesia Jadi Ilham bagi Kami

Jakarta – Dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Presiden Prancis Francois Hollande menyinggung soal nilai kebinekaan (keberagaman) dan toleransi di Indonesia. Menurutnya, hal itu bisa menjadi ilham bagi negaranya. Hollande mengatakan Indonesia merupakan sebuah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Namun Indonesia mampu menjaga nilai toleransi dan kebinekaan dengan baik. “Indonesia memang adalah negara… Read more →

Kisah Nyata di Balik Beauty and The Beast dan Cerita Disney Lainnya

Beauty and the Beast
Cuplikan film Beauty and the Beast yang saat ini diputar di bioskop.

Jika pada akhir pekan ini Anda akan menyaksikan film Beauty and the Beast di bioskop, Anda mungkin akan terkejut mengetahui bahwa film itu didasarkan pada kisah nyata.

Beauty and the Beast sejatinya berasal dari kisah asmara abad ke-16 di Prancis antara seorang pembantu dan seorang pria yang punya masalah dengan rambutnya.

Berikut kisah nyata di balik Beauty and the Beast dan beberapa film Disney lainnya:

Beauty and the Beast

animasi beauty and the Beast
Film versi animasi yang dirilis Disney pada 1991.

Film Beauty and the Beast versi Disney diambil dari buku dongeng berjudul La Belle et la Bete karangan Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve yang dirilis pada 1740.

Penulis asal Prancis itu terinspirasi oleh kisah nyata Petrus Gonsalvus dan tunangannya, Catherine.

Petrus mengidap hypertrichosis, yang membuat sekujur badan dan wajahnya dipenuhi rambut tebal dan gelap.

Josette Day in La Belle et la Bete film in 1946
Buku berjudul La Belle et la Bete dibuat menjadi film yang dibintangi Josette Day pada 1946.

Karena kondisinya tersebut, Petrus dibawa dari kampung halamannya di Kepulauan Canary ke Prancis untuk menjadi tontonan keluarga kerajaan.

Catherine, seorang pembantu di lingkungan kerajaan, tidak tahu tentang kondisi Petrus sampai akhirnya keduanya bertemu pada hari pernikahan. Namun, sekalipun Catherine mengetahuinya, itu tidak mengganggunya.

Pasangan Petrus dan Catherine kemudian dikaruniai empat putra dan tiga putri. Di antara anak-anak tersebut, dua putra dan ketiga putri mewarisi kondisi Petrus. Keluarga itu pun menjadi terkenal di seantero Eropa.

The Hunchback of Notre Dame

Quasimodo
Film animasi The Hunchback of Notre Dame

Film animasi Disney yang dirilis pada 1996 itu mengisahkan perempuan gipsi bernama Esmeralda berteman dengan Quasimodo, pria bungkuk yang membunyikan lonceng Katedral Notre Dame di Paris.

Kisah itu didasari oleh novel karangan Victor Hugo yang dipublikasikan pada 1831. Banyak yang mengira novel dan film itu murni cerita fiksi.

Quasimodo
Quasimodo, si bungkuk dari Notre Dame, yang dikisahkan dalam novel karya Victor Hugo

Akan tetapi, pada 2010, kalangan akademisi menemukan referensi yang menyebut soal keberadaan seorang pemahat bungkuk asal Inggris bernama Henry Sibson. Nah, Sibson bekerja di katedral tersebut pada abad ke-19, pada saat ketika novel Victor Hugo sedang ditulis.

Sejumlah dokumen yang menyebut keberadaan Sibson ditemukan saat penjualan aneka perabot rumah di Cornwall, Inggris. Berkas-berkas itu kini menjadi koleksi Galeri Tate di London.

Pocahontas

Pocahontas
Film animasi Pocahontas

Film Pocahontas versi Disney mengisahkan bagaimana perempuan dari suku asli Amerika Utara itu menyelamatkan penjelajah asal Inggris, John Smith, pada abad ke-17.

Dalam film tersebut diceritakan Smith berhasil selamat setelah diserang suku asli Amerika yang “buas” dan kemudian dia dan Pocahontas saling jatuh cinta.

Akan tetapi, sejarah hubungan antara suku asli Amerika dan penjajah lebih rumit dari film Disney.

Suku Powhaton, keturunan Pocahontas yang sebenarnya, mengeluh kepada Disney dan menyatakan film itu “mengaburkan sejarah di luar logika”.

Pocahontas
Gambar yang menunjukkan Pocahontas menyelamatkan nyawa John Smith. Gambar ini kini menjadi koleksi Perpustakaan Kongres AS.

Pocahontas lahir sekitar 1596 dengan nama Matoaka. Dia dijuluki Pocahontas yang artinya ‘si bandel’.

Oleh penjajah Inggris, Pocahonta dijadikan sandera ketika berusia 17 tahun dan ditawan selama lebih dari satu tahun.

Agar bisa bebas, dia sepakat menikah dengan seorang duda berusia 28 tahun bernama John Rolfe dan mengubah namanya menjadi Rebecca Rolfe.

Pocahontas
Potret Pocahontas sekitar 1617.

Pocahontas atau Rebecca hijrah ke London bersama suaminya dan berdua mereka dikaruniai seorang putra.

Pasangan itu mencoba kembali ke Virginia, namun Pocahontas meninggal dalam perjalanan di atas kapal saat berusia 21 tahun.

John Smith
Potret John Smith pada 1616

John Smith yang sebenarnya menulis tiga catatan semasa hidup bersama suku Powhaton. Namun perlu 17 tahun bagi dia untuk mengakui Pocahontas menyelamatkan nyawanya.

Mulan

Mulan
Film animasi Mulan

Pada 1998, Disney merilis film Mulan yang mengisahkan seorang perempuan menyamar sebagai laki-laki untuk menggantikan posisi ayahnya yang sakit parah di militer Cina. Versi Disney diambil dari Balada Mulan, sebuah puisi yang ditulis pada abad keempat atau kelima di Cina.

Mulan
Mulan, yang kemudian menyamar menjadi laki-laki untuk menggantikan posisi ayahnya dalam dinas militer.

Hua Mulan digambarkan sebagai seorang ksatria, yang pada usia 12 tahun mencapai keahlian di bidang kungfu dan bertarung menggunakan pedang.

Sejumlah sejarawan tidak yakin sosoknya asli. Tapi beberapa pakar mengatakan kisahnya amat mungkin didasari seorang perempuan Cina yang menginspirasi banyak orang ketika itu.

 

 

http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39319329

These 9 tops and bottoms are classic and timeless pieces that are always in style.  They mix well with one another because of the neutral color tones and the simple designs.  

9 Pieces 10 Outfits (French Minimalist Style)

 

THE 9 PIECES:

ACCESSORIES: